STITQI - UPDATE: Artikel dan Berita Terkini

0

HENGKY TORNANDO DAN DANSESKOAD TNI KUNJUNGI PPI

Indralaya (14/03) – Aktor kondang di era 90-an, Hengky Tornando dan Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) periode 2013-2014 Mayjen TNI. Ir. Arief Rahman, M.B.A., MM, bersama rombongan hadir dihadapan santri di halaman kampus pusat pondok pesantren al-Ittifaqiah Indralaya.

0

Pengurus OSPI 2015-2016 Dilantik

PPI (16/02) – Bertempat di halaman depan kampus A Pondok Pesantren al-Ittifaqiah (PPI) Indralaya , sebanyak 118 orang santri dilantik dan diambil sumpahnya sebagai pengurus Organisasi Santri Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya (OSPI) Putra dan Putri.

“Alhamdulillah, masa konfrensi mulai dari kampanye, laporan pertanggung jawaban sampai pencoblosan berjalan dengan lancar”, kata ustaz Ikbal Yasin, S.Pd.I.

0

Alquran, Umat Islam, dan Persaudaraan Universal (III)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Kita kutip makna ayat 13 surat al-Hujurat secara lengkap, “Wahai manusia! Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan puak agar kamu saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahasadar.”

Yang dipanggil oleh ayat bukan hanya orang beriman. Mufasir Muhammad Asad dalam The Message of the Quran (1980, halaman 792) memberi ulasan tentang etika sosial yang terkandung dalam ayat 13 ini. Kita kutip, “Bermula dengan penghormatan yang ditujukan kepada Nabi (dalam ayat 2-7) dan implikasinya kemudian atas kepemimpinan umat yang benar sesudahnya, diskursus ini mencapai puncaknya pada prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman (ayat 10), dan dalam pengertian yang terluas, persaudaraan seluruh umat manusia (ayat 13).”

0

Alquran, Umat Islam, dan Persaudaraan Universal (II)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dalam Mukhtashar min Tafsîr al-Imâm al-Thabarî dan Qur’ân Karîm: Tafsîr wa Bayân ma’a Asbâb al-Nuzûl li-‘l-Suyûthî, ayat 10 surat al-Ĥujurât di atas tidak diberi penjelasan tentang betapa pentingnya ungkapan innamâ di awal ayat itu. Saya heran mengapa kedua mufassir klasik yang berbeda abad itu tidak membahas prinsip utama tentang persaudaraan orang beriman ini. Mungkin dianggap ayat itu sudah sangat jelas, karenanya tidak perlu diberi penjelasan lagi. Atau mungkin juga karena yang saya cek ini adalah ringkasan kedua tafsir itu, di dalamnya ayat 10 itu tidak disertakan penjelasan oleh yang meringkas.